Tahukah Anda bahwa degredasi hutan dan deforestasi sebenarnya memiliki arti yang berbeda meski kerap disandingkan bersama. Berikut akan dijelaskan lebih lanjut mengenai kedua hal tersebut.
Degregasi
Hutan
Degradasi
hutan, meskipun sering kali kurang terlihat daripada deforestasi, merupakan
ancaman serius terhadap ekosistem hutan dan keseimbangan lingkungan secara
keseluruhan. Degradasi hutan adalah berkurangnya luas hutan dan simpanan karbon
dalam kurun waktu tertentu (KLHK 2018). Degradasi hutan secara global dipahami
sebagai penurunan kemampuan hutan dalam menyediakan barang dan jasa (FAO 2002).
Penyebab
dari degregasi hutan:
- Penebangan Selektif: Praktik penebangan pilih-pilih yang tidak berkelanjutan dapat merusak struktur hutan dan mengurangi keanekaragaman hayati.
- Eksploitasi Kayu: Penebangan kayu yang berlebihan, baik yang legal maupun ilegal, menyebabkan penurunan stok kayu berharga dan merusak habitat satwa liar.
- Pembukaan Lahan: Konversi hutan menjadi lahan pertanian, perkebunan, atau pemukiman manusia mengurangi luas dan kualitas habitat hutan.
- Kebakaran Hutan: Kebakaran hutan yang tidak terkendali dapat merusak lapisan tanah, menyebabkan erosi, dan mengurangi kesuburan tanah.
Dampak dari
degredasi hutan:
- Kehilangan Keanekaragaman Hayati: Degradasi hutan mengakibatkan hilangnya habitat bagi banyak spesies tumbuhan dan hewan, meningkatkan risiko kepunahan.
- Pengurangan Ketersediaan Air: Hutan berperan penting dalam siklus air, dan degradasi hutan dapat menyebabkan penurunan aliran air dan kualitas air.
- Perubahan Iklim: Degradasi hutan mengurangi kemampuan hutan dalam menyerap karbon, yang dapat mengintensifkan perubahan iklim global.
- Kerentanan Terhadap Bencana Alam: Hutan yang terdegradasi lebih rentan terhadap banjir, tanah longsor, dan kekeringan, meningkatkan risiko bencana alam bagi masyarakat yang tinggal di sekitarnya.
Upaya yang bisa dilakukan dalam
rangka menanggulangi terjadinya degredasi hutan:
- Pemantauan dan Penegakan Hukum: Peningkatan pengawasan dan penegakan hukum terhadap aktivitas ilegal seperti penebangan liar dapat membantu mengurangi degradasi hutan.
- Pengelolaan Hutan Berkelanjutan: Praktik pengelolaan hutan yang berkelanjutan, seperti pengelolaan hutan yang berbasis masyarakat dan sertifikasi hutan, dapat membantu meminimalkan degradasi hutan.
- Pengembangan Alternatif Ekonomi: Mendorong pengembangan alternatif ekonomi bagi masyarakat yang bergantung pada hutan untuk kehidupan mereka dapat mengurangi tekanan terhadap hutan.
- Pemulihan Hutan: Program restorasi hutan dan rehabilitasi lahan dapat membantu memulihkan ekosistem hutan yang terdegradasi.
Deforestasi
Hutan
Deforestasi merupakan konversi hutan menjadi
penggunaan lahan lain baik yang disebabkan oleh manusia ataupun tidak, termasuk
pengurangan permanen tutupan kanopi pohon dibawah ambang batas minimum 10% (FAO
2018).
Menurut Peraturan Menteri Kehutanan Republik
Indonesia Nomor 30 Tahun 2009, deforestasi mengacu pada perubahan permanen
kawasan hutan menjadi kawasan non-hutan akibat aktivitas manusia.
Selanjutnya
diketahui adanya deforestasi bruto dan deforestasi netto. Deforestasi bruto hanya
memperhitungkan kerugian (pembukaan hutan alam) dan tidak memperhitungkan
kemungkinan terjadinya regenerasi hutan (baik yang disebabkan oleh alam maupun
campur tangan manusia). Sedangkan deforestasi netto memperhitungkan di mana
hutan sekunder tumbuh kembali dan di
mana reboisasi dilakukan.
Beberapa
kegiatan yang menyebabkan deforestasi antara lain pengelolaan hutan secara
intensif pada kawasan Izin Usaha Pemanfaatan Kayu dan Hasil Hutan (IUPHHK), konversi
lahan hutan untuk penggunaan lain, meliputi kegiatan seperti ekspansi
pertanian, pertambangan, perkebunan dan migrasi, serta pengelolaan hutan yang
tidak lestari, pencurian kayu atau pembalakan liar, perambahan dan pendudukan
lahan kawasan hutan dan kebakaran hutan.
Dampak yang
di timbulkan dari deforestasi adalah sebagai berikut:
- Kehilangan Keanekaragaman Hayati: Hutan-hutan merupakan habitat bagi jutaan spesies tumbuhan dan hewan. Deforestasi menyebabkan kehilangan habitat dan kepunahan massal.
- Perubahan Iklim: Hutan-hutan berperan sebagai penyerap karbon utama. Dengan hilangnya hutan, konsentrasi karbon dioksida di atmosfer meningkat, berkontribusi pada pemanasan global.
- Erosi Tanah dan Banjir: Tanah-tanah yang terbuka akibat deforestasi lebih rentan terhadap erosi dan banjir, mengancam kesuburan tanah dan keamanan pangan.
- Dampak Sosial: Deforestasi sering kali berdampak pada masyarakat adat dan komunitas lokal yang bergantung pada hutan untuk kehidupan dan keberlangsungan budaya mereka.
Upaya penanggulangan
yang bisa dilakukan meliputi:
- Perlindungan Hutan: Pembentukan taman-taman nasional dan konservasi hutan serta penguatan regulasi terhadap aktivitas penebangan ilegal adalah langkah kunci dalam menjaga keberlangsungan hutan.
- Pertanian Berkelanjutan: Mendukung praktik pertanian yang ramah lingkungan, seperti agroforestri dan permaculture, dapat mengurangi tekanan terhadap hutan.
- Penggunaan Energi Terbarukan: Beralih dari sumber energi fosil ke energi terbarukan dapat mengurangi tekanan terhadap hutan untuk eksploitasi sumber daya alam.
- Edukasi dan Kesadaran Masyarakat: Meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga hutan dan mengubah perilaku konsumen dapat membantu mengurangi permintaan akan produk-produk yang berkontribusi pada deforestasi.
Baik degredasi
ataupun deforestasi hutan merupakan tantangan serius bagi keberlangsungan
ekosistem hutan dan memerlukan respons dari semua pihak. Dengan memahami penyebab,
dampak, dan solusi yang tepat, kita dapat bergerak menuju upaya pemulihan dan
keberlanjutan lingkungan yang lebih baik. Selain memperbaiki
kerusakan yang telah terjadi dan memastikan keberlanjutan hutan untuk generasi
mendatang.
Setelah dijelaskan secara umum terkait
perbedaan degredasi dan deforestasi harapannya semoga anda dapat memahami dan
membedakan kedua kata tersebut. What a nice insight today!