Perbedaan Stratified Sampling dan Cluster Sampling


    Diartikel sebelumnya (Lihat disini) kita sudah mengetahui perbedaan dari simple random sampling dan systematic sampling, berikut akan dikenalkan metode sampling lainnya sebagai tambahan wawasan. Selain membahas mengenai Stratified Sampling dan Cluster Sampling, kita juga akan belajar mengenai bentuk dan ukuran plot sampling secara umum. 

Stratified Sampling

Dalam konteks kehutanan, stratified sampling dapat digunakan untuk mengumpulkan data tentang berbagai aspek hutan atau kegiatan kehutanan dengan memperhitungkan variasi yang ada di dalamnya. Berikut adalah beberapa contoh penerapan stratified sampling dalam kehutanan:

1. Tipe vegetasi: Jika Anda ingin mengumpulkan data tentang komposisi vegetasi di hutan, yang dapat membagi hutan menjadi berbagai strata berdasarkan jenis vegetasi, misalnya, hutan hujan tropis, hutan gugur, atau savana.

2. Umur pohon: Untuk memahami struktur dan dinamika populasi pohon di hutan, yang dapat membagi hutan menjadi strata berdasarkan umur pohon, seperti pohon muda, pohon dewasa, dan pohon tua.

3. Tingkat kerusakan hutan: Jika tertarik untuk mengevaluasi tingkat kerusakan hutan akibat kegiatan manusia atau faktor alam, Maka dapat membagi hutan menjadi strata berdasarkan tingkat kerusakan, misalnya, hutan yang tidak terganggu, hutan yang terdegradasi, dan hutan yang terfragmentasi.

4. Penggunaan lahan: Jika ingin memahami bagaimana hutan digunakan oleh masyarakat lokal atau untuk kegiatan tertentu seperti pertanian, pemotongan kayu bakar, atau pariwisata, maka dapat membagi hutan menjadi strata berdasarkan penggunaan lahan tersebut.

Dalam semua contoh ini, penggunaan stratified sampling memastikan bahwa variasi yang ada dalam populasi hutan dipertimbangkan dalam proses pengambilan sampel, sehingga memungkinkan untuk membuat inferensi yang lebih tepat tentang kondisi atau karakteristik hutan secara keseluruhan.

Metode ini dilaksanakan pada populasi yang heterogen sehingga dipandang perlu dilakukan stratifikasi, misalnya terdapat perbedaan yang jelas pada komposisi tegakan, kerapatan tegakan, topografi lapangan. Semakin kecil keragaman maka akan meningkatkan ketelitian sampling.

Stratifikasi dilakukan sebelum dilakukan sampling; setiap stratum merupakan sub-populasi tersendiri yang masing-masing diperlakukan sampling secara terpisah. Besar dan banyaknya plot contoh pada masing-masing stratum dapat ditentukan sebanding dengan luas stratum (proporsional).

Cluster Sampling

Cluster sampling merupakan metode pengambilan sampel di mana populasi dipecah menjadi klaster-klaster yang sering kali terdiri dari unit-unit yang terkumpul secara alami, seperti desa, wilayah geografis tertentu, atau blok-blok hutan. Dalam bidang kehutanan, cluster sampling dapat digunakan dengan cara berikut:

1. Klaster Geografis: Hutan sering kali terletak dalam klaster geografis yang jelas, seperti cekungan sungai, daerah pegunungan, atau konsesi hutan.

2. Desa-desa Terdekat: Jika hutan tersebut berdekatan dengan permukiman manusia, dapat menggunakan desa-desa sebagai klaster. Hal ini dapat membantu untuk mengumpulkan data tentang penggunaan lahan, pola pemanfaatan hutan, atau persepsi masyarakat terhadap keberlanjutan hutan dengan memilih beberapa desa secara acak dan mengumpulkan data dari setiap desa.

3. Blok-blok Kehutanan: Dalam pengelolaan hutan yang terorganisir, hutan sering dibagi menjadi blok-blok yang dapat dikelola secara terpisah.

4. Kawasan Konservasi atau Taman Nasional: Jika tertarik pada konservasi atau pengelolaan hutan yang dilindungi. Maka dapat menggunakan kawasan konservasi atau taman nasional sebagai klaster. Data-data yang didapat tentang keanekaragaman hayati, kepadatan populasi spesies tertentu, atau tingkat kerusakan lingkungan di beberapa lokasi yang mewakili kawasan tersebut

Pembagian populasi kedalam beberapa grup dilakukan untuk mengatasi areal pengukuran yang sangat luas dan aksesibilitasnya sulit. Cluster adalah unit sampling, dapat berupa one-stage cluster atau multi-stage cluster sampling, yaitu populasi dibagi atas unit-unit sampel secara bertahap.

Bentuk dan Ukuran Plot Sampling

Bentuk petak ukur yang umum digunakan dalam inventarisasi hutan, yaitu jalur, empat persegi panjang, bujur sangkar, dan lingkaran. Jalur merupakan bentuk petak ukur yang pertama kali digunakan dan diketahui mengandung kesalahan sampling yang cukup besar yang bersumber pada pengukuran pohon-pohon ditepi jalur.

Bentuk empat persegi panjang kemudian dikembangkan, dimana tidak dilakukan pengukuran pada keseluruhan jalur, melainkan berselang-seling antara yang diukur dan tidak diukur.

Dalam perkembangannya, petak ukur persegi panjang berubah menjadi bujur sangkar. Bentuk ini mempunyai peluang terjadinya bias, karena sudut yang terbentuk tidak selalu tegak lurus di lapangan, serta eror pada pengukuran pohon-pohon tinggi juga cukup besar.

Melalui permasalahan tersebut, bentuk petak ukur lingkaran dikembangkan. Bentuk ini memiliki kelebihan, selain mengurangi masalah eror juga mudah diaplikasikan dilapangan, khususnya jika batas petak ukur tidak perlu dibuat permanen di lapangan.

Pada IHMB, petak ukur hutan alam berbentuk empat persegi panjang dengan lebar 20m dan panjang 125m. Di dalam plot contoh tersebut dibuat 4 buah sub-plot, yaitu sub-plot untuk pengukuran pancang berbentuk lingkaran dengan jari-jari 2,82m, sub-plot untuk pengukuran tiang berbentuk bujur sangkar berbentuk 10m x 10m, sub-plot untuk pengukuran pohon kecil berbentuk bujur sangkar berukuran 20m x 20m, dan sub-plot untuk pengukuran pohon besar, berbentuk empat persegi panjang berukuran 20m x 125m.

Pada hutan tanaman, petak ukur berbentuk lingkaran dengan jari-jari 7,94m untuk pengukuran tegakan umur 0-10 tahun, jari-jari 11,28m untuk pengukuran tegakan umur 11 - 20 tahun, dan jari-jari 17,8m untuk pengukuran tegakan umur diatas 20 tahun.

 

Yhnataliaar

Hallo, Saya Yohana Natalia selaku author blog ini. Semoga blog ini menjadi wadah bagi pembaca untuk mencari informasi. Hope you enjoy it.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama